21
Sang kodok oh..oh..oh sang kodok
*sambungan dari postingan sebelumnya*
Adegan selanjutnya? yah..sebetulnya engga ada yang istimewa dari adegan selanjutnya dari kejadian waktu itu. Yang dilakukan si boss setelah mengatakan hal tersebut hanyalah ngeloyor pergi dan tukang urut menagih bon nya. ![]()
Dunia emang mengecewakan…
***

Hari ini..Pontianak hujan. Mendung dari pagi menurun hujan di siang ini. Well, seperti biasa..hari yang dingin dan mendung membangkitkan pikiran-pikiran yang aneh. Sendu. Syahdu. Borju *gaknyambung.com*.
Banyak hal yang terlintas di pikiranku selama mandangin hujan seperti ini. Banyak. Tentang anak-anak jalanan yang mungkin saat ini sedang kehujanan dan kelaparan diluar sana..tentang ibuku dirumah..hingga tentang Mak Erot yang kini sudah tiada. Ah ya, pahlawan kaum pria itu telah kembali kepadaNya. Menandakan manusia memang serba terbatas..kemampuannya, hidupnya.. suatu saat pasti akan kembali menjadi tanah. Sebanyak apapun ilmu yang kau miliki. Seberlimpah apapun harta yang kau timbun. Hingga seberapa besar kemampuanmu mem-perkasakan- benda benda yang tidak perkasa..
Preet!
Beberapa menit yang lalu aku membaca postinganku yang ini. TIba-tiba aku ingat sang Kodok Besar. Bukan. Bukan Roy Saputra. Aku meyakinkan diriku bahwa.. inilah musim hujan di dunianya sehingga ia begitu merajalela dan bersukaria. Congkak dan pongah. Aku sudah pernah mengingatkannya bahwa musim hujan tak berlangsung selamanya. Mudah-mudahan ia mendengar. Kodok kecil sayang pada kodok besar. Tapi..
Hey, udahlah. Hidup emang engga selalu berjalan seperti yang kita mau tapi kata pak Pendeta kemarin “Bersukacitalah!!” Yo’i..hidup cuman sekali ini saja. Cuman sekali ini. Maka berusahalah hidup dengan baik.
Apaan sih ya? Halah.
Sok sentimentil.
Eniwei, maren pas nonton Batman ama Eta di mall..aku ngliat ada kacamata lucu warna pink. Mo beli ah. Nanti abis beli, potoan narsis-narsis trus tak tempelin disini. Ditunggu ya..
*langkah chengcheng menuju toilet*















